Tour Mahasiswa S-2 Kajian Pariwisata Unud ke Pulau Padar, Permata Nusa Tenggara Timur

Catatan Nonny Aji Sunaryo dan Ihyana Ulfa, Angkatan 2016

Pesona Pulau padar. Indah tiara tara.

Padar adalah pulau yang memiliki pemandangan cantik nan eksotis, dari sekian pulau yang termasuk dalam kawasan konservasi taman nasional komodo. Pulau ini tidak dihuni oleh biawak komodo.

Daya tarik utama adalah pemandangan di puncak bukit di mana kita dapat melihat lanskap tiga pantai yang berbeda.

Sebanyak 19 orang mahasiswa s2 Kajian Pariwisata Fakultas Pariwisata Universitas Udayana Bali 2016, ditemani Bapak Dr. Syamsul Alam Paturusi sebagai kordinator. Perjalanan kami dimulai 14 Maret 2017. Kami terbang dari Bandara Ngurah Rai Bali menuju Bandara Labuan Bajo, dari sana menuju Pulau Komodo.

Tiba di Bandara Labuan Bajo.

Rabu 15 Maret 2017 perjalanan dimulai pukul 09.00 wita, untuk menuju Pulau Padar dari penginapan di pemukiman penduduk Pulau Komodo. Perjalanan memerlukan waktu sekitar 2 jam menggunakan boat di jalur laut.

Pukul 11.00 WITA kami tiba, disambut cuaca yang sangat terik tak menyurutkan kami untuk menuju puncak. Mendaki ke puncak memerlukan waktu 1 jam, termasuk foto-foto di perjalanan karena tak ingin melewatkan pesona nan-indah.

Di Pulau Komodo.

Saat berjalan kami banya di suguhkan pemandangan-pemandangan yang sangat indah, sehingga kami banyak berhenti dan mengambil foto-foto. Alam yang indah seolah menghipnotis. Kami lupa rasa lelah dan terik matahari yang membakar kulit.

Oleh sebab itu, sebaiknya pada saat mendaki, sebaikknya kita menggunakan Sunblok dengan SPF yang tinggi untuk menghindari kulit terbakar. Jangan lupa menggunakan topi untuk membuat wajah terhindar dari sengatan mentari.

Riang gembira saat tiba di puncak. Keindahan pesona di Pulau Padar lenyapkan rasa letih.

Air Minum

Setibanya di puncak, kami berteduh sejenak di bawah pohon yang rindang dan mengambil beberapa video, dan minum air mineral lokal sembari menanti teman-teman yang masih asik foto-foto di bawah. Sebaiknya pada saat mendaki kita membawa air mineral dan snack, karena di Pulau Padar tidak tersedia tempat atau kios penjual makanan.

Tanpa terasa di puncak kami menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit, dan kami bergegas turun, untuk dapat mengunjungi pulau-pulau lainnya.

Dermaga sederhana tempat kapal berlabuh, meskipun ada beberapa teman yang tidak ikut naik, karena keadaan yang kurang sehat. Mereka sama sekali tidak merasa rugi. Karena di dermaga ini pun mereka bisa menikmati keindahan alam yang disuguhkan, seperti air lait yang jernih. Mereka menghabiskan waktu berenang dan memancing.

Tangga menuju dari dermaga menuju bukit.

Di dermaga ini ada sebuah cerita yang sedikit dramatis. Pada saat ingin menolong mahasiswa untuk naik ke atas dermaga. Tak disengaja Pak Syamsul malah terjatuh ke dalam air. Hal ini disebabkan dermaga ini terapung dan sedikit goyang-goyang pada saat naik, sehingga dibutuhkan keseimbangan.

Pijakan yang kuat pada saat ingin menolong teman yang lain untuk naik, tingginya sekitar ½ meter. Selain itu yang perlu diperhatikan adalah bobot teman yang ingin kita tolong.

Dermaga bisa juga untuk areal memancing.

Medan Tracking

Kontur medan yang ditempuh saat tracking menuju puncak bukit, cukup membuat kita harus sedikit waspada. Sejak awal kondisi jalan sudah menanjak dengan jenis tanah berpasir, berbatu, beberapa titik curam. Oleh karena itu, pemakaian alas kaki yang tepat akan sangat baik digunakan untuk mengindari hal yang tidak diinginkan, sandal gunung cukup bisa diandalkan untuk mendaki tempat ini.

Sampah

Sampah permasalahan klasik di daerah wisata. Sampah yang sering saya temui semasa tracking dipulau ini adalah plastik kemasan minuman, yang ingin saya sampaikan adalah tolong kepada siapa saja yang mengunjungi pulau ini agar membawa turun sampah Anda sendiri dan sampah yang Anda lihat semasa perjalanan.

Karena sebenarnya tidak ada pengelola yang pasti utuk membersihkan sampah tersebut. Dengan membawa sampah turun kita dapat berkontribusi terhadap kelestarian dan keindahan pemandangan pulau ini.

Pukul 12.30 WITA setelah puas menikmati pemandangan alam dan photo shoot, kami bergegas kembali menuju kapal untuk melanjutkan perjalanan. Meskipun begitu tetap belum selesai rasa takjub di dalam hati, bagaimana tidak jika pemandangan selama menuruni bukit masih indah dan menarik hati (*).