Catatan Perjalanan: Dari Pulau Komodo hingga ke Waerebo, Negeri di Atas Awan

Catatan Ida Ayu Dyana Prawerti, Angkatan 2016

Desa Waerebo, di balik bukit di atas awan.

Alam yang indah dan unik adalah kekayaan Indonesia. Kami merasakan itu. Bersama rekan-rekan mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana 2016, kami mengadakan field trip ke Nusa Tenggara Timur, mulai dari Komodo, Pulau Kanawa, dan yang mengagumkan adalah kami berhasil menjejakkan kaki di Desa Waerebo, kerap dijuluki ‘Negeri di Atas Awan’.

Tahun 2012, Desa Waerebo mendapat anugerah UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation 2012. Berikut adalah catatan perjalanan kami yang tak terlupakan.

Rangkaian field trip yang diselenggarakan oleh mahasiswa semester 2 Prodi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana 2016 dimulai pada tanggal 14 Maret 2017 hingga 19 Maret 2017. Field trip kali ini bertemakan Exploring Komodo Island and Waerebo Village, peserta field trip berjumlah 19 orang mahasiswa beserta Bapak Syamsul sebagai dosen pendamping.

Di Pulau Komodo

Rombongan bertolak dari Bandara I Gst Ngurah Rai menuju Bandara Komodo, Labuan Bajo pada Selasa pagi, 14 Maret 2017. Penerbangan menuju Labuan Bajo menempuh sekitar satu setengah jam, mendekati waktu pendaratan dari dalam pesawat kami disuguhkan pemandangan yang sangat mengagumkan berupa gugusan pulau-pulau cantik yang tersebar nan hijau yang membuat kami semakin tidak sabar untuk mengeksplor keindahan Pulau Komodo.

Tujuan Pertama Pulau Kanawa

Setelah urusan bagasi dan koper selesai, kami melangkah ke exit gate lalu keluar menuju parkiran, untuk bergegas menuju ke Pelabuhan Labuan Bajo dengan menggunakan mobil. Tujuan pertama kami yaitu Pulau Kanawa, perjalanan menuju Pulau Kanawa menghabiskan waktu sekitar 2 (dua) jam dengan menggunakan boat.

Jembatan indah Pulau Kanawa.

Pulau Kanawa saat itu tampak sepi, hanya terdapat segelintir wisatawan mancanegara yang sedang melakukan aktivitas seperti berjemur dan berenang. Kami pun tidak ingin melewatkan keindahan pulau ini. Berulang kali kami mengambil foto di tengah jembatan kayu dengan pasir putih dan birunya air laut sebagai latar belakang.

Perjalanan berikutnya yaitu mengunjungi Pulau Gili Lawa Darat. Di pulau ini rombongan melakukan pendakian untuk sampai di puncak yang merupakan spot terbaik untuk menikmati keindahan Gili Lawa Darat.

Medan yang dilewati cukup berat dikarenakan jalur trekking yang berbatu dan dominan menanjak, lengkap ditemani dengan teriknya matahari siang hari. Namun, hal tersebut tak menjadi hambatan kami untuk terus menapaki jalur tersebut hingga ke puncak. Sesampainya di puncak, rasa lelah selama pendakian telah terbayarkan dengan pesona yang disuguhkan di Gili Lawa Darat. Menjelang sore hari kami menuju penginapan yang terletak di Kampung Komodo.

Rumah panggung, rumah tradisional khas Kampung Komodo.

 Homestay Khas

Kami menginap di homestay milik masyarakat asli Kampung Komodo. Rumah penginapan yang kami tempati memiliki bentuk yang khas dan bercat warna-warni. Masyarakat mnyebutnya dengan rumah panggung.

Hampir seluruh rumah panggung ini terbuat dari kayu dan dibangun bertingkat guna mencegah masuknya komodo ke dalam rumah.  Ada hal yang harus diperhatikan bagi para calon wisatawan yang ingin menginap di kampung ini yaitu listrik yang masuk ke kampung ini masih sangat terbatas.

Pukul 22.00 listrik akan mati dan begitu pula dengan signal ponsel. Sinyal ponsel kembali hidup pada pagi sekitar pukul 07.00 pagi dan listrik akan kembali menyala menjelang sore hari. Jadi bagi wisatawan selama menginap di Kampung Komodo sebaiknya memanfaatkan listrik sebaik mungkin dan mempersiapkan alat penerangan lainnya seperti senter.

Tak Kalah Indah

Perjalanan kami dihari kedua diawali dengan mengunjungi Pulau Padar, sama halnya dengan Gili Lawa Darat, rombongan melakukan trekking hingga ke puncak Pulau Padar. Tidak kalah indah dengan Gili Lawa Darat, pesona yang ditawarkan Pulau Padar berhasil membuat kami diam terpukau, sungguh betapa indahnya ciptaan Tuhan.

Pesona sekitar Pulau Padar.

Dari atas puncak, kami dapat menyaksikan gugusan pulau-pulau cantik, indahnya pantai dan luasnya lautan. Selanjutnya kami meneruskan perjalanan menuju Taman Nasional Komodo, tiba di TNK kami disambut para petugas dan ranger (pemandu). Mereka memberi berbagai informasi terkait dengan  salah satu  keajaiban alam warisan dunia oleh UNESCO tersebut. Ranger menjelaskan bahwa persebaran komodo di Pulau Komodo mencapai ribuan ekor.

Tips yang sebaiknya diperhatikan bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke TNK, meliputi (1) dilarang untuk mendekati komodo tanpa pengawasan dari ranger, (2) barang-barang yang menimbulkan pergerakan seperti mengayun sebaiknya disimpan dengan baik dan dijauhkan dari jangkauan komodo, (3) khusus bagi wanita yang sedang menstruasi dianjurkan untuk berada lebih dekat dengan ranger, hal ini dikarenakan komodo sangat peka dengan bau darah. Komodo dapat berubah menjadi ganas dan agresif jika mencium bau darah.

Pink Beach

Setelah merasa puas berkeliling dan berfoto rombongan selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Pink Beach untuk melakukan snorkeling. Sesuai dengan namanya Pink Beach, pantai ini merupakan pantai yang unik yang memiliki pasir yang berwarna merah muda. Selain itu kondisi bawah lautnya juga menyimpan keindahan dan kekayaan yang menarik untuk diselami. Keindahan bawah lautnya dilengkapi dengan berbagai jenis ikan, tanaman laut, terumbu karang dan biota laut lainnya.

Hari ketiga, hari terakhir rombongan mengeksplor Pulau Komodo diisi dengan aktivitas snorkeling di Namo Island. Pemandangan bawah laut di Namo Island juga tak kalah menarik. Selanjutnya kami menepi di Taka Makassar, Taka Makassar merupakan pulau kecil berpasir dan hanya bisa dikunjungi saat air laut surut.

Manta Cantik  Menawan

Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi Manta Point. Di sini peserta rombongan dibuat kagum dengan kehadiran manta-manta yang sangat banyak, kumpulan manta berenang mendekati kapal boat kami sehingga memudahkan kami menyaksikan cantiknya hewan manta ini dari jarak dekat. Sungguh menawan.

Menyaksikan hewan laut Manta dari jarak dekat.

Beberapa peserta rombongan tidak ingin melewatkan moment ini, mereka berenang dan snorkeling hingga ke dalam laut untuk melihat keindahan manta tersebut. Pengemudi boat mengatakan bahwa betapa sungguh beruntungnya rombongan kami ini karena dapat menyaksikan manta dari jarak dekat dan jumlah yang banyak.

Petualangan ke Waerebo

Perjalanan selanjutnya kami kembali ke Pelabuhan Labuan Bajo dan menuju ke hostel untuk beristirahat serta mempersiapkan tenaga untuk perjalanan keesokan harinya mengeksplor Desa Waerebo.

Keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Waerebo, peserta yang ikut berjumlah 14 orang. Perjalanan ke Desa Waerebo membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam dari Labuan Bajo melalui jalur darat dengan menggunakan mobil.

Rombongan kami menyewa dua buah mobil. Jalur yang kami lewati berkelok-kelok sehingga tidak jarang peserta rombongan yang mengeluhkan mual dan pusing. Ini sungguh sebuah petualangan.

Memasuki Desa Beak Ondo dan menikmati makan siang di tepi sungai.

Pemberhentian pertama kami yaitu di Desa Beak Ondo, rombongan berhenti untuk menikmati makan siang di sungai. Sungguh pengalaman yang luar biasa menikmati makan siang dengan pemandangan yang indah, udara yang menyejukkan dan terasa lebih nikmat ditemani suara gemericik air sungai dan suara alam.

Setelah usai makan, rombongan melanjutkan perjalanan ke Desa Denge. Jalur yang dilalui semakin sempit, hanya dapat dilalui satu mobil dan ketika berpapasan dengan mobil lainnya, salah satu mobil harus mengalah menepi ke pinggir.

Ada hal unik yang kami lewati selama perjalanan menuju Desa Denge kami melihat murid-murid sekolah yang baru saja pulang sekaloah, mereka berteriak memanggil kami “Halo Mister Halo Mister” dan mereka menjulurkan tangannya kedalam mobil untuk bersalaman dengan kami. Selain itu beberapa diantara mereka ada yang terus berlari mengejar mobil kami dan berteriak “biscuit…biscuit…minta biscuit”.

Jasa Ojek

Pukul 14.00 kami tiba di Desa Denge, mobil yang kami kendarai harus berhenti sampai di sini. Selanjutnya kami harus melanjutkan perjalanan menuju start point pendakian, untuk mencapai start point para pendaki dapat menggunakan jasa ojek motor dengan biaya sebesar Rp. 30.000 per orang atau bisa juga dengan memilih dengan berjalan kaki.

Saat itu rombongan kami memilih untuk menggunakan ojek motor. Selain jasa ojek motor, terdapat juga jasa porter yang akan mengangkut barang bawaan kami selama pendakian. Biaya yang kami keluarkan untuk menggunakan jasa porter sebesar Rp. 200.000 per porter, satu porter dapat mengangkut 3 sampai 4 barang bawaan.

Perjalanan menuju start point hanya bisa dilalui dengan sepeda motor, jalan tersebut sudah beraspal akan tetapi terdapat kerusakan yang cukup parah di beberapa ruas jalan yang diakibatkan oleh banjir besar beberapa waktu lalu. Jarak dari Desa Denge menuju ke start point hanya menghabiskan waktu sekitar 5 menit dengan medan jalan yang terus menanjak.

Berfoto bersama di start point sebelum pendakian.

Sampai di start point kami didatangi seorang kakek dengan banyak tongkat di tangannya. Kakek tersebut mengajak kami bicara. Awalnya kami kurang paham dengan ucapan yang dikatakan kakek tersebut, kemudian kami meminta kakek tersebut untuk berbicara lebih keras, ternyata beliau menawarkan kami untuk menyewa tongkat selama pendakian. Beberapa dari rombongan pun menyewa tongkat yang ditawarkan kakek tersebut dengan harga Rp. 10.000 per tongkat. Setelah rombongan lengkap kami bersiap untuk memulai pendakian. Pendakian dimulai pada pukul 14.17.

Jalur pendakian yang menanjak , basah dan licin.

Awal pendakian kami sudah melalui jalur yang sedikit menanjak dengan formasi paling depan porter 1 ditengah-tengah rombongan kami dan paling akhir porter 2. Pada satu kilometer pertama jalur pendakian terus menanjak melewati hutan dengan jalur yang berbatu, dan basah.

Minum Air, Atur Nafas

Beberapa kali rombongan berhenti untuk beristirahat minum air, mengatur nafas, berfoto-foto dan menikmati udara segar. Selama pendakian sesekali kami berpapasan dengan masyarakat asli Desa Waerebo, sungguh benar seperti informasi yang saya dengar bahwa masyarakat asli Desa Waerebo sangat ramah, pada saat kami berpapasan mereka menyapa kami dan menyemangati kami. Mereka berjalan dengan barang pikulan dipundaknya seperti kulit kayu manis dan kayu-kayu.

Dalam satu hari mereka tersebut dapat memikul barang dan turun dari desa sebanyak dua kali. Selama berjalan kaki tersebut mereka tidak menggunakan alas kaki sebagai pelindung dan membiarkan begitu saja hewan lintah menggigit kakinya, kata mereka sudah terbiasa.

Sebagai informasi ada baiknya ketika ingin melakukan pendakian ke Desa Waerebo khendaknya mempersiapkan pelindung seperti celana panjang, alas kaki yang aman guna mencegah dari gigitan lintah-lintah yang sewaktu-waktu tanpa disadari sudah menempel pada kaki.

Sampai di Pos 2 kami beristirahat, menikmati udara segar dan duduk-duduk diatas bongkahan batu. Di Pos 2 ini signal ponsel dapat terdeteksi. Kami juga berjumpa dengan 2 wisatawan mancanegara asal German.

Selajutnya kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3, pos terakhir menuju Desa Waerebo. Menuju pos 3 kondisi jalan mulai menurun, meyempit dan licin. Dari kejauhan kami melihat satu bangunan pondok kayu dengan sekitar 4 anak tangga, itu merupakan bangunan Pos 3.

Di pondok kayu ini kami dapat melihat Desa Waerebo dari kejauhan dengan cukup jelas. Sungguh sangat cantik beberapa bangunan kerucut, diapit dengan hijaunya pepohonan serta sedikit kabut sebagai pelengkap indahnya Desa Waerebo.

Di pondok ini juga kami harus membunyikan alat berupa kentongan sebagai penanda bahwa kami akan masuk ke Desa Waerebo. Di sini kami diingatkan oleh porter, sesampainya di Desa Waerebo kami tidak diperkenankan mengambil foto sebelum melakukan upacara penerimaan tamu.

Tidak sampai 30 menit akhirnya kami tiba di Desa Waerebo. Kami disuguhkan dengan pemandangan rumah-rumah kerucut yang terlihat sangat tradisional. Kami diarahkan untuk menuju ke rumah utama yang terletak ditengah-tengah.

Disambut Upacara

Di rumah utama ini kami disambut oleh Bapak Alex. Bapak Alex merupakan kepala suku generasi ke- 20 dalam silsilah keturunan Desa Waerebo. Di rumah ini kami disambut dengan upacara adat Desa Waerebo bernama Waelu. Waelu merupakan upacara yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur-leluhur dan memohon keselamatan dan perlindungan agar para tamu diberikan keselamatan selama berada di Desa Waerebo.

Setelah upacara selesai, kami juga melakukan tanya jawab dengan Bapak Alex mengenai Desa Waerebo. Kata Waerebo itu sendiri tidak memiliki makna khusus seperti nama-nama desa pada umumnya. Berdasarkan penuturan Pak Alex, nama Waerebo berasal dari mimpi para leluhur jaman dulu, dalam mimpi tersebut dikatakan bahwa suatu saat nanti tempat ini harus diberi nama Waerebo.

Pada awal munculnya desa ini, pemerintah belum memberikan perhatian dan mengakui keberadaannya. Namun, seiring perkembangannya saat ini yang sudah dilirik oleh wisatawan mancanegara, pemerintah mulai menunjukkan perannya seperti memberikan bantuan-bantuan kepada masyarakat Desa Waerebo. Selain itu beberapa tokoh penting di Indonesia secara suka rela mendanai pembangunan salah satu rumah adat Desa Waerebo.

Setelah berpamitan kepada Bapak Alex, kami diarahkan untuk masuk ke rumah tamu. Setibanya di rumah tamu kami disambut oleh pemilik rumah dan disuguhkan minuman hangat seperti teh dan kopi.

Rumah tamu ini merupakan rumah di mana kami akan menginap. Di sini kami bergabung dengan wisatawan lainnya yang berjumlah sekitar 25 orang. Biaya yang dikenakan untuk setiap wisatawan yang menginap sebesar Rp. 325.000 sudah termasuk makan malam dan makan pagi keesokan harinya.

Susana makan malam di Rumah Tamu.

Pada saat makan malam, kami menikmatinya di dalam rumah tamu ini. Kami berbaur dengan wisatawan lainnya. Setelah makan malam, saya berjalan ke belakang rumah dan mengetuk pintu dapur yang masih tradisional. Dua orang ibu menyambut saya dan mempersilahkan saya masuk untuk melihat-lihat.

Di dalam dapur tradisional ini kami banyak bercerita mengenai aktivitas keseharian para ibu. Setiap harinya pada pukul 03.00 pagi mereka akan bangun dan memulai aktivitas di dapur seperti memasak untuk persiapan makan pagi para tamu.

Seminggu sekali tepatnya setiap hari Senin mereka akan turun untuk berbelanja bahan makanan dapur, karena pasar hanya dibuka setiap hari Senin. Saya tergelitik untuk menanyakan bagaimana jika wanita dalam kondisi hamil dan memasuki masa persalinan, mengingat desa Waerebo sangat jauh dari pusat kesehatan ataupun rumah sakit. Mereka mangatakan mereka cukup menggunakan ramuan tradisional dan bantuan dari masyarakat lokal dengan cara yang tradisional pula.

Setelah puas berbincang-bincang, saya bergegas untuk ke kamar kecil untuk membersihkan diri dan bersiap tidur. Alas tidur yang disediakan berupa tikar bambu yang cukup tebal, bantal kepala dan selimut. Udara pada malam hari di Desa Waerebo cukup dingin, ada baiknya untuk mempersiapkan jaket tebal dan topi.

Menyambut matahari pagi bersama anak-anak Desa Waerebo.

Bangun Pagi Penasaran

Keesokan harinya pukul 04.30 saya bangun karena penasaran dengan ativitas di dapur saya kembali mengetuk pintu dapur dan melihat ibu-ibu yang sedang sibuk mempersiapkan sarapan. Lalu bergegas untuk mandi.

Sekitar pukul 06.00 kami berkumpul di halaman untuk menikmati udara pagi yang sangat segar dan melihat aktivitas sehari-hari masyarakat lokal. Kami juga bermain bersama anak-anak kecil, mendengarkan mereka bernyanyi, serta bermain bola.

Tidak ingin melewatkan sedikitpun keindahan Desa Waerebo, kami berulang kali mengabadikan moment indah ini dengan berfoto dan membuat video tarian-tarian lucu dengan 7 buah rumah kerucut sebagai latarbelakang foto kami.

Setelah puas berfoto kami kembali ke rumah tamu untuk bersiap-siap pulang, tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada pemilik rumah karena telah menerima kami dengan sangat baik.

Cinderamata khas Desa Waerebo.

Pemilik rumah juga menjual beberapa cinderamata khas Desa Waerebo seperti kain tradisonal dan kopi. Bagi wisatawan yang ingin membawa pulang cinderamata khas Waerebo dapat membeli langsung di sini.

Pamitan

Sebelum pulang, kami berkumpul di halaman untuk berfoto dan berpamitan kepada Bapak Alex dan juga mengucapkan terima kasih atas kebaikannya menerima kami selama di Desa Waerebo. Tepat pukul 08.10 kami berjalan untuk kembali ke bawah (start point).

Rombongan bersama Bapak Alex (kepala suku).

Terharu dan masih belum percaya bahwa saya pernah menjejakkan kaki di “Negeri di Awan” tersebut. Sungguh perjalanan dan pengalaman yang sangat menakjubkan dan tidak akan pernah terlupakan. Kebahagiaan, kesederhanaan, ketenangan yang mengagumkan.