Program ‘Joint Curriculum’ di Jerman: Pengalaman Kuliah Jadi Kenangan Mendalam

Oleh Ni Putu Rika Sukmadewi, Angkatan 2015

Ruang perpustakaan yang nyaman untuk belajar (foto-foto Rika).

Ruang perpustakaan University of Applied Sciences Stralsund, Jerman yang nyaman untuk belajar (foto-foto Rika).

Tidak terasa kurang lebih selama tiga bulan akhir tahun 2016 kami tinggal di Stralsund, Jerman kini telah berlalu. Lewat catatan kecil ini, saya ingin berbagi pengalaman belajar kepariwisataan di Jerman dan suasana akademik di kampus.

Kami berlima, yaitu Reinaldo Rafael Laluyan, Gusti Ngurah Adi Putra, Dewa Putu Bagus Pujawan Putra, Ni Putu Diah Prabawati, dan Ni Putu Rika Sukmadewi (penulis) merupakan mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud yang mengikuti Program Joint Curriculum/Transfer Kredit di Jurusan Tourism Development Strategies, University of Applied Sciences Stralsund, Jerman. Program ini berada dalam payung kerja sama Asia-Europe Meeting (ASEM) yang dikelola oleh Direktorat Belmawa Kementerian Ristek Dikti.

Perjuangan dari awal yang tidak mudah untuk dilewati, pada akhirnya banyak hikmah menghampiri dan semoga segala pengalaman yang kami peroleh dapat menjadi bekal dalam meraih masa depan yang cerah di kemudian hari.

Terima kasih kepada Prof. I Nyoman Darma Putra selaku Ketua Program Studi S-2 Kajian Pariwisata dan Dr. Syamsul Alam Paturusi,MSP (Sekretaris Prodi) yang telah memberikan kesempatan, kepercayaan dan dukungan kepada kami berlima dalam melaksanakan program ini.  Tidak lupa juga terima kasih kepada staf sekretariat Prodi S-2 Kajian Pariwisata Pak Nyoman Kariana, Ibu Dayu Ari Pradnyani, Ibu Putu Udayani, dan Bu Made Arsani.

Perkuliahan  

Untuk mata kuliah jam pertama dijadwalkan dengan waktu perkuliahan yang dimulai pada pukul 08.00 pagi waktu setempat. Saat musim dingin, waktu sepagi itu matahari pun belum memunculkan kehangatannya. Suasana pada saat itu masih terasa seperti pk. 04 pagi.

Awalnya sangat sulit bagi saya untuk bisa sesegera mungkin mempersiapkan diri menuju kampus karena cuaca yang sangat dingin, dan tubuh saya butuh waktu yang lumayan lama untuk beradaptasi dengan cuaca tersebut.

Kurang lebih selama empat minggu untuk mengembalikan kondisi tubuh menjadi pulih dan kembali normal seperti semula. Selain berjuang untuk melawan dingin, saya juga harus menggunakan pakaian berlapis-lapis dan super tebal serta berusaha berjalan secepat mungkin untuk mengurangi rasa dinginnya angin yang berhembus. Hal ini merupakan kali pertama bagi saya merasakan musim dingin yang sebenarnya. Syukurnya, letak dormitory dengan kampus tidaklah jauh, bisa ditempuh kurang lebih 10 menit, jalan aki sambil menghangatkan badan.

img_1475

Prof. Scheibel memberikan kuliah “International Risk Management”

Presentasi Singkat

Teaching and learning methods yang diberikan oleh para dosen di University of Applied Sciences Stralsund merupakan suatu hal yang baru bagi saya. Metode proses belajar mengajar di sana pada dasarnya hampir sama dengan motede yang saya peroleh di Universitas Udayana seperti pemberian materi yang menggunakan Power Point sebagai instrumen penyampaian materi.

Selain itu, diterapkan juga metode diskusi, dan presentasi. Namun, presentasi di sana sedikit berbeda dengan di Indonesia, mahasiswa hanya diberikan durasi paling lama 5-10 menit, sehingga mahasiswa hanya menjelaskan secara singkat, padat dan jelas tidak berbelit-belit dalam penyampaian materi yang dipresentasikan.

Dalam kegiatan belajar mengajar, suasana belajar yang dikemas oleh dosen mengharuskan mahasiswa untuk lebih aktif berdiskusi membahas materi pembelajaran saat itu. Pada saat mengajar atau memberikan materi kepada mahasiswanya, dosen disana terkesan santai dan humanis serta lebih fleksibel, namun tetap serius sehingga terkesan tidak ada gap yang terlalu tinggi antara dosen dengan mahasiswanya yang dampaknya mahasiswa lebih nyaman dalam menyerap ilmu yang diberikan.

Ruang kuliah.

Ruang kuliah.

Sangat Kompetitif

Selain itu, budaya pembelajaran di Jerman, khususnya di University of Applied Sciences Stralsund sangat kompetitif. Antar-mahasiswa berusaha untuk saling berkompetisi satu sama lain untuk menjadi yang terbaik, selain itu mahasiwa diberikan tanggung jawab yang tinggi dalam setiap pembelajaran.

Tidak ada sistem absensi atau pengecekan kehadiran mahasiswa, karena di sana rata-rata mahasiswanya sangat disiplin dan menghargai waktu. Setiap pertemuan, rata-rata dosen wajib memberikan tugas kepada mahasiswa yang berupa studi kasus empiris yang terjadi di sekitar kita atau isu aktual yang terkait dengan materi mata kuliah tersebut dan kemudian dibahas atau  dipresentasikan pada pertemuan selanjutnya.

Kunjungan ke Perusahaan

Hal yang paling mengesankan bagi saya ketika salah satu dosen pengampu mata kuliah International Risk Management, yakni Prof. Scheibel mengajak mahasiswa “Tourism Development Strategies” untuk berkunjung ke perusahaan Dräger. Jadi, metode pembelajaran yang disampaikan tidak hanya diberikan berupa teori saja di dalam kelas tetapi diperkenalkan juga secara praktek di lapangan.

Perusahaan Dräger merupakan perusahaan teknologi yang melahirkan produk-produk terkait keselamatan dan medis. Di sana, kami dijelaskan mengenai sejarah perusahaan, strategi marketing yang digunakan, sistem perekrutan karyawan dan berbagai hal terkait International Risk Management yang tentunya mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk melontarkan berbagai pertanyaan dan menyerap ilmu dan informasi secara langsung di lapangan.

Selain itu, kami juga diajak untuk menikmati exhibiton, tidak hanya sekadar melihat tetapi kami juga diperbolehkan untuk mencoba mengaplikasikan beberapa produk perusahaan mereka. Amazing! Hal tersebut tentunya semakin meyakinkan saya bahwa Jerman merupakan negara pioner teknologi. Saya sangat berharap Indonesia juga nantinya mampu bersaing dan memanfaatkan sebaik-baiknya sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang dimiliki.

Selama saya mengikuti perkuliahan di Jerman, materi tourism yang dijelaskan sebagian besar berbau bisnis dan marketing. Tentunya hal tersebut dapat saya kombinasikan dengan pembelajaran budaya terkait tourism yang telah saya peroleh selama kuliah di kampus tercinta, Universitas Udayana.

 Perpustakaan

Untuk mengisi waktu luang, sesekalinya saya bersama teman-teman berkunjung ke perpustakaan sembari mencari referensi terkait tourism. Perpustakaan ini terdiri dari 3 lantai (2 lantai + basement), dan berbagai jenis buku dapat dicari di setiap lantainya.

Sebelum memasuki perpustakaan, mahasiswa terlebih dahulu diharuskan untuk menaruh barang bawaan seperti tas dan jaket di dalam loket yang akan dapat terkunci apabila telah memasukkan koin €1, tidak boleh kurang ataupun lebih, koin tersebut dapat diambil kembali setelah membuka pintu loker.

Bukan merupakan suatu kekhawatiran bagi kami jika ingin setiap hari berkunjung ke perpustakaan diperbolehkan untuk meminjam buku sebanyak 40 buah dalam jangka waktu 20 hari. Namun, ada buku-buku tertentu yang ditandai dengan yellow sign yang berarti tidak boleh dipinjam, jadi hanya bisa dibaca di dalam perpustakaan saja.

Jika ingin memfotocopi tidak perlu repot untuk keluar lagi mencari karena di dalam perpustakaan tersebut sudah disediakan mesin fotocopi yang dapat digunakan mahasiswa. Tidak hanya buku-buku yang terlihat tersusun rapi nyaris tak berdebu serta ruang baca yang bersih tetapi juga toilet yang tersedia pun terjaga kebersihannya.

International Christmas Celebration

Pada tanggal 13 Desember 2016, acara International Christmas diadakan dalam rangka menyambut Hari Raya Natal. Acara ini diselenggarakan di Mensa (Kantin) kampus pada pukul 19.30. Mahasiswa dari program studi lainnya beserta para dosen seperti Prof. Rasmussen, Prof. Gronau, Prof. Scherl dan Mrs. Wallenburger  juga turut hadir dalam acara tersebut.

Perayaan Natal dengan teman-teman mahasiswa Jerman.

Perayaan Natal dengan teman-teman mahasiswa Jerman.

Kami berlima tentunya sangat bersemangat untuk menghadiri acara kampus yang diadakan setiap tahunnya di University of Applied Sciences Stralsund. Sebelum acara dimulai, kami dipersilahkan untuk menikmati Welcome Drink yang harus ditukarkan terlebih dahulu dengan tiket yang sudah kami beli sebelumnya. Berbagai rangkaian acara telah dipersiapkan seperti Initial Hellos of the Team, Welcome Speech, Buffet Opening, dan Greetings from Abroad, ditambah dengan sajian hiburan seperti Oriental Belly Dancing, Band “Wolperdinger” dan dihadirkan pula DJ Mulla.

Pada saat musik Band tengah berlangsung, kami berlima diajak oleh Birgit (buddy kami) untuk ke depan panggung menari bersama agar suasana semakin hidup. Awalnya kami berlima tidak ingin maju ke depan karena malu tetapi akhirnya kami pun mencoba, dan tak disangka sedikit demi sedikit mahasiswa yang lain pun berdatangan dan ikut menari bersama bahkan ada yang langsung berdansa.

Kami pun bebas mengekspresikan gerakan atau tarian yang kami bisa, sesekalinya Aldo memperlihatkan goyangan dangdutnya yang menawan, Dewa menunjukan gerakan ala Michael Jackson, Ngurah dengan gerakan lincahnya, Diah dengan gerakan indahnya, dan saya pun mencoba bergoyang semampunya. Walapun lumayan menguras energi tetapi terasa sungguh menyenangkan bisa menari dan tertawa bersama. Dengan diselenggarakannya acara ini tentunya dapat memberikan kesempatan bagi kami untuk saling mengenal dan menjalin keakraban satu sama lain.

Banyak hal yang saya peroleh di Jerman, dari kawan hingga pengalaman yang akan selalu tertanam dalam ingatan.