Prof. I Gde Pitana Beri Kuliah Umum di S-2 Kajian Pariwisata

Prof. Dr. I Gde Pitana,M.Sc. (tengah, melipat tangan) berfoto bersama mahasiswa S-2 Kajian Pariwisata Unud usai kuliah umum, Kamis, 7 Mei 2015.

Prof. Dr. I Gde Pitana,M.Sc. (tengah, melipat tangan) berfoto bersama mahasiswa S-2 Kajian Pariwisata Unud usai kuliah umum, Kamis, 7 Mei 2015.

Kepala Badan Sumber Daya Pariwisata Kementerian Pariwisata Indonesia, Prof. Dr. I Gde Pitana,M.Sc., memberikan kuliah umum kepada mahasiswa S-2 Kajian Pariwisata Unud, Kamis, 7 Mei 2015, di kampus setempat. Saat memberikan kuliah umum, Prof. Pitana didampingi oleh Ketua Prodi Kajian Pariwisata, Prof. I Nyoman Darma Putra.

Dalam ceramahnya, Prof. Pitana menyampaikan bahwa pasar utama pariwisata Indonesia kebanyakan berasal dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Australia, dan Jepang.

“Selain sumber pasar pariwisata, beberapa negara tetangga ini juga merupakan kompetitor kita karena kita sama-sama mengincar pasar yang sama,” ujar profesor pariwisata pertama Indonesia itu.

Sehubungan dengan kenyataan di atas, Prof. Pitana menyampaikan bahwa strategi yang tepat untuk Indonesia dalam membangun pariwisata dan meningkatkan angka kunjungan adalah menerapkan kompetisi sekaligus kolaborasi.

“Konsep untuk ini mungkin bisa diistilahkan dengaN coopetitive atau collapetitive, yang jelas colllaborative dan competitive berjalan sama-sama,” tambah Prof. Pitana, guru besar Universitas Udayana yang juga pernah menjadi Kepala Dinas Pariwisata Bali.

Prof. I Gde Pitana

Prof. I Gde Pitana (foto Agitha Arrasy Asthu)

 Potensi dan Produk

Dalam kuliah umumnya selama dua jam penuh yang dihadiri 45 mahasiswa, Prof. Pitana menjelaskan potensi dan produk wisata Indonesia serta fasilitas lainnya. Hal itu diuraikan dalam konteks menjelaskan kesiapan Indonesia berkompetisi.

“Potensi dan produk wisata Indonesia sangat beragam, hanya saja sebagai negara besar kita masih kekurangan infrastruktur,” katanya. Sebagai contoh, Pitana menyebutkan terbatasnya fasilitas bandar udara yang bisa menerima penerbangan asing, padahal potensi wisata alam dan budaya Indonesia terbentang dari Sabang sampai Merauke.

Laut biru, langit biru, indah alam Indonesia. Foto diambil di Pantai Lovina, Singaraja (Foto Darma Putra)

Laut biru, langit biru, indah alam Indonesia. Foto diambil di Pantai Lovina, Singaraja (Foto Darma Putra)

Selama ini, kata Prof Pitana, penerbangan asing misalnya dari Cina hanya menuju dua bandara utama yaitu Sukarno-Hatta Jakarta dan Bandara Ngurah Rai Bali. “Jumlah turis Cina yang ke luar negeri setiap tahun ratusan juta, ini pasar besar yang perlu digarap, tapi penerbangan langsung dari Cina ke Indonesia terbatas, oleh karena itulah kita perlu berkolaborasi dengan negara tetangga,” tambah penulis sejumlah buku teori pariwisata seperti Sosiologi Pariwisata.

Menurut Prof. Pitana, negara tetangga seperti Singapura dan Thailand sudah menjadi titik distribusi wisata asing, maka kita bekerja sama dengan mereka untuk mendatangkan wisatawan Cina ke Indonesia.

“Biarkan wisatawan Cina terbang beramai-ramai ke Singapura dan Bangkok, harapan kita maskapai penerbangan negara tetangga juga mau mendistribusikan turis Cina ke negara kita, inilah bentuk kolaborasi,” tambah Prof. Pitana.

Tentang MEA

Dalam kuliahnya, Prof. Pitana juga membahas masalah Masyarata Ekonomi ASEAN (MEA) dan strategi promosi Indonesia dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.

“Pertanyaan tentang MEA selalu apakah Indonesia siap, padahal mestinya pertanyaannya ‘apakah yang harus dilakukan Indonesia agar siap menghadapi MEA’,” ujar Pitana.

Tentang strategi promosi, dia menyampaikan pentingnya mengenal karakter turis yang hendak disasar sehingga bisa berpromosi secara efektif.

“Wisatawan Cina senang berbelanja kalau diskon, mereka biasanya memutuskan holiday dalam waktu mepet dengan jadwal perginya, makanya strategi promosi harus disesuaikan dengan itu, tak ada gunanya jauh-jauh promosi dari hari musim liburan mereka seperti Imlek,” tambah Prof. Pitana.

Prof. Pitana sebetulnya terdaftar sebagai dosen di S-2 Kajian Pariwisata Unud tetapi karena kesibukannya sebagai Kepala Badan di Kementerian Pariwisata Jakarta, beliau hadir sebagai pemberi kuliah umum di sela-sela tugasnya ke Denpasar.

Kuliah umum Prof. Pitana mendapat sambutan dan perhatian yang sungguh-sungguh dari mahasiswa. (dp).