Kabar Alumni: Empat Alasan Memilih Universitas Udayana

Oleh Glenda M.S. de Carvalho, Angkatan 2010

Kenangan Tur ke Hongkong Schenzen dan Macau saat kuliah di Magister Kajian Pariwisata Unud.

Glenda (berbaju gelap di antara bendera dan topi) dalam kenangan Tur ke Hongkong Schenzen dan Macau saat kuliah di Magister Kajian Pariwisata Unud.

Ketika Pemerintah República Democrática de Timor Leste (RDTL) Kementerian Pendidikan mulai memberlakukan peraturan di mana semua penguruan tinggi negeri dan swasta harus mempekerjakan tenaga dosen yang minimal bergelar master, saya terpanggil untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu jenjang master.

Sempat bingung ketika itu untuk menentukan universitas mana yang akan dipilih. Berikut ini kabar selengkapnya.

Saya mengajar di Program Studi Bisnis Pariwisata, Fakultas Ekonomi dan Management, Universitas Nasional Timor Lorosa’e, satu-satunya perguruang tinggi negeri di Timor Leste. Untuk menunjang karier, maka saya memutuskan untuk kuliah di Program Studi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana.

Waktu itu tahun 2010 bulan Februari, saya sengaja buka beberapa website dari beberapa Perguruan Tinggi Negri yang ada di Indonesia yang memiliki program studi Magister Pariwisata. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya pilihan saya jatuh pada Universitas Udayana.

Glenda  (kanan depan)

Glenda (kanan depan) dan Dr Syamsul Alam Paturusi (tengah)

Beberapa Alasan

Ada beberapa alasan yang menjadi pertimbangan saya ketika itu untuk memilih Universitas Udayana sebagai tempat saya menuntut ilmu. Pertama, Universitas Udayana (Unud) merupakan universitas yang memiliki Prodi Magister Kajian Pariwisata tertua di Indonesia, tentunya memiliki staf pengajar yang berpengalaman.

Kedua, Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud memiliki kurikulum yang sangat bagus dan up to date yang mana memudahkan karya siswa untuk belajar. Ketiga, Bali merupakan “Laboratorium Pariwisata” di Indonesia, dengan demikian sangatlah muda untuk melalukan penelitian dan mempraktekan segala ilmu yang didapat dari bangku kuliah.

Keempat, jarak Bali ke Timor Leste sangat lah dekat, hanya di tempuh dalam penerbamgan satu jam empat puluh lima menit (1:45 menit) Biasa diistilahkan oleh para mahasiswa yang kuliah di Bali “Sapan pagi di Bali makan siang di Dili”.

Alasan lain untuk belajar pariwisata adalah Timor Leste memiliki keindahan alam, pantai, terumbu karang spot diving dan keunikan budaya yang luar biasa, jika dikembangkan dengan baik akan menjadi daya tarik wisata yang bias mendatangkan devisa bagi negara, Oleh Karena itu saya ingin menjadi bagian dari pembagunan pariwisata Timor Leste.

Rekreasi rafting bersama teman-teman kuliah di Sungai Ayung.

Rekreasi rafting bersama teman-teman kuliah di Sungai Ayung.

Datang ke Unud

Dengan beberapa pertimbangan tersebut pada bulan Februari tahun 2010, saya memutuskan untuk datang ke Kampus Udayana di Jl. Sudirman untuk menanyakan secara lansung proses menjadi karya siswa Magister Pariwisata, seperti kapan waktu pendaftaran, persyaratannya apa saja dan kapan harus test. Setelah mendapatkan semua informasi, saya kembali ke Timor Leste untuk mengurus segala keperluan administrasi yang berhubungan dengan pendaftaran Karya siswa pada Magister Pariwisata.

Singkat cerita setelah melalukan berbagai tes, yang dilakukan selayaknya masuk Universitas pada umumnya, sampailah pada test yang terakhir yaitu wawancara (interview).

Dengan hati yang berdebar, saya melangkah memasuki ruang untuk di wawancarai. Hal yang mengkhawatirkan saya adalah status saya saat itu adalah mahasiswa asing yang berangkat dengan biaya sendiri, tanpa beasiswa, bagaimana jika dikenakan pembayaran standar internasional? Apakah saya harus kembali ke Timor Leste? Sedangkan saya sudah menolak beasiswa ke Portugal dengan pertimbangan keluarga.

Semua teman-teman saya sudah melakukan segala persiapan ke Portugal. Jika saya balik dan menguplay pun belum tentu lansung diterima harus menunggu tahun berikutnya jika ada lowongan.

Bersyukur Tiada Henti

Di luar dugaan, karena saya tidak ada sponsor maka dikenakan pembayaran SPP standar nasional. Dalam hati bersyukur tiada henti. Akhirnya saat yang ditunggu pun tiba, yaitu pengumuman hasil kelulusan, Puji Tuhan. Saya diterima sebagai karya siswa pada program Magister Pariwisata Universitas Udayana, salah satu universitas yang menjadi incaran saya untuk menuntut ilmu.

Kembalilah saya ke Dili dengan surat kelulusan dari Universitas Udayana Prodi Magister Kajian Pariwisata. Setelah mengurus segala keperluan administasi untuk melanjutkan studi, akhirnya saya dapat mengantongi surat Izin belajar dari, Fakultas Ekonomi Universitas Nasional Timor Lorosa’e (FE-UNTL) dan Visa Pelajar dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Saya berangkat ke Bali untuk memulai perkuliahan.

Registrasi dan Cari Kost

Setibanya di Bali saya mulai melakukan registrasi sebagai karya siswa pada Prodi Magister Kajian Pariwisata. Saya pun mencari koskosan untuk tinggal. Kos yang ada di sekitar Kampus Jl. Sudirman yang standar untuk dapat memberikan rasa aman dan nyaman untuk belajar rata-rata berkisar antara Rp.1000.000 s.d. Rp.1.500.000, ketika itu.

Mau tidak mau saya harus merogoh kantong untuk itu. Memang itu yang harus saya lakukan, tinggal di sekitar kampus, karena jika tinggal jauh dari kampus agak susah mengakses transportasi umum (Bemo). Selain itu, saya tidak dapat mengendarai sepeda motor, sampai dikatain sama teman-teman saya bahwa “hari-hari gini tidak dapat mengendarai sepeda motor..susah”.

Ya memang benar, untuk itu harus megeluarkan biaya ekstra untuk transportasi (Taxi) jika ingin bepergian. Akhirnya, saya mendapatkan kos di Jl. Dr. Goris, persis di samping Kampus, dan letaknya di tengah kota Denpasar.

Awalnya Kewalahan

Sampailah saatnya memulai proses belajar mengajar dimana didahului dengan matrikulasi. Setelah selesai matrikulasi pada awal Agustus 2010, perkuliahan dimulai. Di sini saya mulai merasakan kesulitan karena agak kewalahan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kewalahan ini terjadi karena sudah kurang lebih sepuluh tahun saya tidak menggunakan Bahasa Indonesia.

Karena bahasa Resmi Negara Timor Leste adalah Tetum dan Portugis sehingga komunikasi tiap hari sudah tidak menggunakan bahasa Indonesia lagi. Sehingga pada awal-awal kuliah agak susah berbahasa Indonesia dengan baik.

Apa yang dijelaskan dosen saya mengerti dengan baik namun ketika berdiskusi saya memilih untuk diam dan menjadi pendengar yang baik. Hal ini berdampak pada keaktifan dalam kelas, sehingga ketika pembagian kelompok kerja saya kesulitan untuk mendapatkan teman.

Pada suatu saat ketika pembagian kelompok, untuk mata kuliah Management Sumber Daya Manusia, saya hanya berdua dengan teman saya dari Kupang (Noni). Kesempatan Ini menjadi suatu cabuk bagi saya, untuk belajar dan mempersiapakan dengan baik presentase kelompok. Alhasil, kami dapat mepresentasikan dengan baik dan ketika ujian lulus dengan nilai yang sangat memuasakan.

Perpustakaan Lengkap

Semua tugas dapat terselesaikan dengan baik karena didukung oleh fasilitas perpustakaan yang lengkap, suasanan perpeustakaan yang nyaman membuat betah untuk belajar ataupun mengerjakan tuga. Pelayanan pegawai perpustakaan yang baik dan profesional.

Hampir sebagian besar waktu ku selama kuliah dihabiskan di perpustakaan untuk membaca dan kadang mengutip beberapa catatan dari buku atau tesis yang saya anggap penting untuk menambah pengetahuan saya. Jadi setiap kali ada tugas bisa mendapatkan referensi dengan muda.

Tanpa terasa, semester I (satu) telah dilalui dan masuk pada semester dua (II) dengan IPK yang sangat memuaskan.

Memasuki semester dua (II), tugas semakin banyak dan teman saya pun memiliki banyak teman. Setelah menempuh kuliah bersama selama satu semester, kami jadi sangat akrab, dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas. Ini memberi motivasi pada kami untuk belajar kelompok, berbagi ilmu dan melakukan aktivitas kampus bersama.

Kenangan Tur Ke Hongkong

Kenangan lain yang tidak dapat terlupakan ketika kami melakukan Tour Ke Hongkong- Schenzen dan Macau, sebagai syarat untuk mata kuliah Traveling.

Suasana keakraban dan kekeluargaan sangat terasa antara mahasiswa dengan dosen. Tidak ada diskriminasi dan saling memperhatikan dan melindungi. Ketika tiba di Airport Hongkong Pasport saya dengan teman senegara (Rogerio Fernandes) tidak terdeteksi oleh mesin scaner Imigrasi Airport, mungkin karena kualitas kertas passport? Kurang tahu!

Hal ini menyebabkan gelisah teman serombonngan. Namun, Puji Tuhan akhirnya petugas menggunakan entry data manual, kami dapat masuk ke Hongkong.

Hal serupa terjadi pada Imigrasi Senzen dan Macau. Akhirnya menyebabkan antrian teman-teman serombogan dan mereka harus menunggu lama untuk itu. Belum lagi ketika sampai di selalu ditanya karena serombongan tetapi memiliki paspor yang berbeda. Kami harus menjelaskan berulang kali pada tiap tempat imigrasi yang kami kami singahi.

Kampus dan Dosen

Enaknya belajar di Prodi Magister Kajian Pariwisata karena memiliki kampus yang letaknya strategis, kelengkapan perpustakaan dengan pelayanan yang baik, Progran Study terakreditasi, kurikulum sangat up to date, pelayanan administasi sangat baik, tidak ribet, ada Tour ke Luar Negri, ada bakti sosial dengan masyarakat sehingga apa yang kita pelajari bisa berbagi dengan masyarakat, pokoknya sangat menyenagkan.

Tim pengajar yang ada di Prodi Magister Pariwisata sangatlah hebat-hebat, lulusan dari berbagai universitas terbaik di dalam maupun di luar negeri, dan mereka memiliki dedikasi yang tinggi terhadap pendidikan.

Mengapa saya katakan demikian? Karena saya merasakan sendiri ketika menghadapai kesulitan dalam menyusun Tesis. Hal ini disebabkan karena keterbatasan bahasa, referensi, waktu, saat itu saya betul-betul dibantu. Beliau orang yang sangat baik dan rendah hati. Siap membantu setiap saat, selalu menjawab SMS ketika di-SMS-in, memberikan masukan sekaligus referensi beberapa buku buat dipinjam untuk digunakan sebagai referensi dalam menulis tesis. Berkat bantuan beliau, saya menamatkan studi saya dengan waktu satu tahu empat bulan (1,4 bulan).

Beliau yang dimaksud adalah Bapak Dr. Ir. Syamsul A. Paturusi. Semoga Tuhan membals semua kebaikan Bapak.

Tidak lupa saya juga ingin mengekspresikan rasa terimakasih tak terhingga pada Bapak Prof. Dr. I Nyoman Sitha, SH., MS dan Drs. I Nyoman Sunarta, Msi. Yang selalu menfasilitasi saya selama menempuh pendidiakan di Magister Pariwisata, Bapak Drs. I Putu Anom, M.Par, Bapak Dr. I Nyoman Madium, Ibu Prof. Dr. N.K. Mardani, beliau menjadi ispirasi saya dalam mengajar.

Juga korps dosen yang lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Berkat kalian semua saat ini saya dapat mengaplikasikan ilmu yang saya dapat untuk membangun negara tercinta Timot Leste.

Tak lupa Staff Adminitrasi Magister Pariwisata, Bapak Drs. I Nyoman Kariana serta staf yang selalu membantu semua urusan administasi, terlebih ketika tiap bulan harus memperpanjang visa di Imigrasi Denpasar dan butuh surat pengantar.

Teman-temanku seangkatan 2010, Aku merindukan kalian semua dari Timor Leste, berharap kita bisa reuni suatu saat. Terima kasih Pahlawanku,Terimakasih Almamaterku, Jayalah Engkau Selalu.

Email : glencarvalho2007@yahoo.com