Catatan Perjalanan: Kerja Keras menjadikan Liburan sebagai Suatu Keharusan

Oleh Gusti Ngurah Agus Adi Putra, Angkatan 2015

Processed with VSCO with b1 preset

Suasana di stasiun Berlin

Tepat pukul 6:40 pagi, saya sampai di Alexanderplatz, salah satu stasiun Kereta api di Berlin. Suhu pada hari itu cukup membuat badan saya gemetar, pantas saja, aplikasi weather pada ponsel saya menunjukkan suhu -3. Ini menjadi angka terminim yang pernah saya rasakan selama berada di Jerman.

Pagi itu saya transit di stasiun ini karena harus menunggu kedatangan bus yang akan membawa saya pulang ke kota Stralsund selepas bepergian ke kota Amsterdam.

Stralsund adalah kota tempat kami berlima (Dewa Putu Bagus Pujawan Putra, Ni Putu Diah Prabawati, Reinaldo Rafael Laluyan, Ni Putu Rika Sukmadewi, dan Gusti Ngurah Agus Adi Putra) dari Program Studi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana mengikuti Program Joint Curriculum/Transfer Kredit Asia & Europe/ASEM di University of Applied Sciences Stralsund yang diprakarsai RistekDikti 2016.

Sarapan dan Kopi

Bus akan tiba pada pukul 10:00, yang berarti saya harus menunggu di stasiun untuk kurun waktu 3 jam lebih.

Di setiap stasiun biasanya terdapat wifi gratis, saya memanfaatkan wifi untuk mengusir rasa kantuk dan dingin. Lalu saya memutuskan untuk berkeliling stasiun melihat toko yang menjual sarapan pagi dan kopi.

Sambil menghitung uang koin saya memutuskan untuk masuk ke kedai kopi karena sudah tidak tahan dengan udara yang menyengat ini. Setiap toko memiliki penghangat.

Dengan bahasa tubuh saya memesan secangkir kopi dan roti panggang, ya saya menggunakan bahasa tubuh ketika berkomunikasi. Kesulitan terbesar tinggal di Jerman adalah komunikasi. Hampir jarang sekali saya menemui orang yang bisa berbahasa Inggris, entah mengapa sangat berbeda dengan negara-negara seperti Belanda atau negara lain di Eropa.

Menurut saya, mungkin Jerman adalah negara adidaya seperti halnya Amerika Serikat yang tidak begitu dipengaruhi oleh negara lain. Saya teringat akan buku perang Eropa bagaimana seorang Hitler dengan sangat lantang menyuarakan untuk bangga menjadi orang Jerman.

Jam menunjukkan pukul 7:15 , stasiun kereta mulai ramai dengan kedatangan orang-orang yang akan melakukan aktivitas setiap hari, mulai dari pergi ke sekolah dan mayoritas adalah orang yang pergi bekerja.

Sambil ditemani kopi panas, saya mengamati orang-orang ini, mereka berjalan sangat cepat, sedikit berlari, melihat jam, melihat jadwal kedatangan kereta di layar besar, membeli tiket, ada pula yang berlari sambil membawa sandwich.

Saya tidak tahu persis berapa orang yang saya lihat, puluhan bahkan ratusan saya rasa. Ini bak banjir bandang di pagi hari yang tiba-tiba saja datang kerumunan orang pada jam yang sama.

Saya pernah melihat pemandangan yang serupa di Jakarta, namun nampak jauh berbeda situasinya, apa yang saya lihat di sini sangat rapi, ditengah situasi yang terlihat “kacau” namun tak satupun saya melihat ada permasalahan berarti, seperti antri tiket, berdesak-desakan, senggol-senggolan. Pun ketika saya memutuskan untuk melihat kereta dari dekat tak tampak orang berdesakan, semua kebagian tempat, termasuk kaum difable yang memiliki tempat sendiri dalam kereta. Berangakatlah mereka untuk bekerja.

Paling Produktif

Berbicara mengenai pekerjaan, Jerman memang dikenal sebagai negara yang paling produktif di Eropa. Itu menurut beberapa orang yang pernah saya temui, dan saya konfirmasi lagi melalui internet.

Selain paling produktif, Jerman dikenal memiliki jam kerja yang paling sedikit yakni rata-rata 6-7 jam kerja dan juga memiliki libur atau cuti paling banyak, disamping itu juga Jerman adalah salah satu yang memiliki rataan gaji yang besar di Eropa.

Kami rombongan mahasiswa pernah mengunjungi salah satu Perusahaan teknologi bernama Draga, disitu kami diberikan informasi mengenai gaji karyawan, minimal mereka digaji sekitar 3.000-5.000 euro/bulan atau sekitar Rp 42-71 juta, jumlah yang cukup membuat kami kaget. Rata-rata perusahaan di Jerman juga memberikan upah kepada mahasiswa magang.

Jerman sebagai satu negara adidaya di Eropa ternyata memiliki budaya kerja yang sangat tinggi, menurut salah satu dosen yang pernah bercerita, orang Jerman ketika mereka bekerja, sangat menghargai waktu. Mereka akan sangat fokus untuk mengerjakan sesuatu di tempat kerja.

Tidak ada waktu untuk bergurau atau berkegiatan lain diluar pekerjaan mereka. Ketika mereka tidak sedang berada dalam jam kerja, akan menjadi sebaliknya, tidak akan memikirkan pekerjaannya.

Liburan Suatu Keharusan

Selain hal tersebut, orang Jerman juga sangat dikenal disiplin terhadap waktu, pernah ketika saya menggunakan bus untuk bepergian, semua bus datang dan sampai di tujuan sesuai dengan yang tertera dalam tiket bus. Bahkan, menitnya sama persis. Dengan fokus dan konsestrasi tinggi saat bekerja maka tak ayal, liburan adalah suatu keharusan.

Di balik produktivitas orang Jerman, liburan atau berwisata adalah hal yang sangat penting. Tak heran orang ketika masa liburan, tempat-tempat wisata seperti danau, kota tua, atau pusat perbelanjaan sangat ramai dengan orang. Mungkin hal-hal tersebut menjadikan  Jerman dikenal sebagai salah satu negara yang paling produktif di dunia.

Tanpa disadari waktu sudah menunjukkan pukul 10:05 dan bus yang saya tunggu sudah parkir rapi di depan stasiun, dan sopir bus sudah berteriak yang mungkin artinya adalah “buruan!”.  Mungkin agar rotasi bus selalu tepat waktu!