Catatan Perjalanan ke Jerman: Kalau Memotret tidak Cukup, Bagaimana lagi Memaknai Pesona?

Oleh Gusti Ngurah Agus Adi Putra, Angkatan 2015

Pesona cahaya Berlin.

Pesona cahaya Berlin.

 

Melakukan kegiatan berwisata biasanya identik dengan mengunjungi monument, pemandangan atau kawasan-kawasan yang memang menjadi daya tarik wisata suatu tempat. Kesenangan melihat-lihat objek wisata biasanya dibarengi dengan memotret yang kemudian dibagikan ke media sosial.

Terkadang kepuasan kegiatan di atas muncul pada waktu teman di media sosial memberikan komentar tentang foto yang diunggah, lalu… foto tersebut tertimbun oleh timeline-timeline pengguna sosmed lain dan dan kepuasan tersebut juga ikut tertimbun didalamnya.

Lantas apa yang lebih penting dari berwisata selain mengabadikan gambar?

Saya teringat kepada salah satu romo Y.B Mangunwijaya yang cukup terkenal yang pernah mengatakan bahwa “belajarlah dari lingkunganmu, bahkan dari seorang tukang becak atau pedagang angkringan dan maknai semua yang kau lihat”

Berlin

Suhu di Berlin mencapai 2 derajat celcius, cukup mengejutkan untuk kami yang datang dari belahan dunia yang sangat dimanjakan dengan matahari.

Kami berlima datang ke kota Stralsund dari Universitas Udayana prodi Magister Kajian Pariwisata dalam rangka pertukaran pelajar mengikuti program ASEM DIKTI 2016. Dalam proses belajar ini kami berlima yang terdiri dari Dewa Pujawan, Rika Sukmadewi, Reinaldo, Diah dan saya Ngurah Agus berjelajah di negeri yang terkenal akan bir dan sosis ini ini.

Beberapa kali kami berkesempatan mengunjungi Berlin, karena merupakan kota terdekat dengan di mana kami tinggal, Stralsund. Berlin dapat ditempuh menggunakan kereta api atau Bus dengan jarak tempuh sekitar 3-4 jam dari kota Stralsund.

Sebagai Ibukota negara besar Jerman, Berlin bukanlah kota yang saya bayangkan sebelumnya, Berlin tidak terlihat seperti Jakarta, Tokyo atau New York yang lihat melalui film layar lebar. Penduduk Berlin terdiri dari lebih dari 3 juta jiwa dengan luas wilayah 891 km2.

Memotret orang yang sedang memotret.

Memotret orang yang sedang memotret.

Pada awalnya ekspektasi saya terhadap kota besar adalah macet, polusi dan lautan manusia sibuk, namun sesampainya saya mengitari kota, ekspektasi sebelumnya pudar, Berlin terlihat sangat lenggang, sangat jarang melihat kemacetan, sepeda motor hanya terhitung beberapa, jalanan didominasi oleh bis angkutan umum, mobil pribadi, dan sepeda.

Sebagai kota besar, layout kota berlin juga terlihat sama dengan kota-kota besar di negara lain, yakni memiliki gedung-gedung perkantoran yang menjulang, namun Berlin terlihat lebih menawan dengan kombinasi bangunan-bangunan besar khas arsitektur Eropa, sehingga mata tidak lelah untuk melihat gedung-gedung monoton khas kota besar karena dimanjakan dengan kekaguman terhadap arsitektur Eropa yang kadang terselip dalam kerumunan gedung-gedung pencakar langit.

Sejarah Kota Berlin

Mengunjungi museum History of Berlin adalah suatu keharusan jika ingin membuka mata tentang ibu kota ini. Museum ini memberikan gambaran lengkap tentang perkembangan Berlin dan juga Jerman.

Kota Berlin sangat berkembang dengan statis dan terstruktur. Dimulai dari masa perang antar kerajaan, lalu Jerman mengembangkan ilmu pengetahuan yang berguna bagi negaranya. Pada masa itu, Jerman sudah memiliki rancangan arsitektur bagi rumah yang layak, lengkap dengan konsep sanitasi yang menandakan majunya peradaban manusia pada masa kolonial di Eropa.

Yang lebih menarik buat saya, selama ini kita hanya mengetahui Inggris sebagai pusat revolusi industri, sehingga alat-alat teknologi berkembang melalui inggris, namun ternyata Jerman juga memiliki peran yang sama besarnya. Penemuan-penemuan canggih dalam bidang sains dan teknologi juga lahir di Negeri Bavaria ini. Maka tak ayal Jerman memiliki industri yang mampu memberikan sumbangan teknologi kepada eropa dan dunia.

Hingga muncullah zaman Perang Dunia 1 yang mengantarkan Jerman mengalami kekalahan memalukan karena perjanjian versailes yang menghukum Jerman secara Politik, ekonomi dan militer. Setelah perang dunia berakhir, ternyata perkembangan negara ini tidak berhenti.

Saya tertarik pada era di mana kamera dan fotografi dimasukkan dalam “bab” khusus di museum ini. Ternyata kamera menjadi massif bagi masyarakat Jerman pada tahun 1930-an, keberadaan kamera menjadi lifestyle baru di Jerman, setiap masyarakat ingin membuat moment, seperti era kita sekarang.

Menurut saya gaya hidup dan dengan adanya kamera menandakan makmurnya generasi Jerman pada masa itu, karena kebutuhan dasar yang telah terpenuhi. Sangat berbeda dengan kita yang pada tahun itu masih terjajah dengan penderitaan.

foto3

Datang ke Berlin saya berharap bertemu dengan sosok Hitler yang sangat gagah berani, namun ternyata tak banyak yang bisa saya cari yang berhubungan dengan Hitler. Ternyata era Hitler adalah era kelam Jerman, yang tak perlu dibanggakan, walaupun pada masa itu Jerman adalah negara adidaya di Eropa, berhasil menguasai hampir seluruh wilayah-wilayah yang bernilai, sebut saja Polandia, Austria hingga Perancis dan menantang Inggris yang memiliki kekuatan yang komplit.

Ah mengagumi negara ini jadi teringat masih punya persediaan indomie kebanggaan Indonesia

Berlin yang tak sempurna

Kami membawa min dset yang menganggap negara-negara Eropa ini sangat sempurna, disiplin dan juga rapi, bahkan salah satu dari kami sering menyayangkan terjadinya vandalism yang sangat mencolok di sekitaran kota, dan berkata “ada juga coretan ga jelas disini ya”. Padahal ini sudah sangat umum terlihat di kota-kota di Indonesia.  Banyak coretan-coretan tak berarti yang menganggu keindahan kota. Saya kurang paham mengapa aksi-aksi ini banyak terjadi di sini. Mungkin karena masyarakat kota terbiasa memberikan kritik, keluh kesah pada tembok.

Berlin ternyata sama saja memiliki masalah-masalah yang kerap dijumpai di kota-kota besar. Jambret dan tindakan kriminal lainnya hampir saban hari terjadi, katanya. Hal ini pernah dialami juga oleh rekan kami yang menjadi korban copet oleh sekelompok orang ketika mengunjungi Berlin.

Tidak hanya itu, saya banyak menjumpai orang-orang yang tunawisma, tidak memiliki rumah, duduk bersila di kolong jembatan, menunggu reaksi orang yang iba untuk mengulurkan sedekah, pun waktu saya melewati gang-gang sempit, masih sering saya temui gerombolan anak muda berpakaian nyeleneh bergaya punk dengan ditemani beberapa botol yang saya yakini alcohol.

Saya memperhatikan orang-orang tersebut memiliki kesamaan secara fisik, saya rasa mereka adalah imigran dari negara-negara timur tengah. Saya tidak berani menggeneralisir namun dari ciri fisik,  semua mereka yang berkelakukan “tidak wajar” tersebut sama, dan lebih banyak lagi saya temui di stasiun-stasiun bus.

foto4

Pernah suatu ketika saya melihat sepeda motor yang sudah terikat dengan rantai besi besar di salah satu tiang pun tak luput dari aksi pencurian, pencuri memberondol kedua ban dan mesin dan menyisakan rangka yang masih terikat dengan rantai besi tersebut. Ini jarang saya lihat bahkan di negara sendiri yang angka kriminalitasnya termasuk tinggi.

Perjalanan memaknai tempat tujuan memberikan saya banyak sekali manfaat, hal ini yang saya sadari mengapa berwisata itu tidak cukup hanya dengan melihat namun juga harus memaknai apa yang dilihat.***