Catatan Perjalanan: Berwisata ke Thailand Mengenal Seluk-beluk Pariwisata

Oleh Putu Suhartana, Angkatan 2014

Lukisan Ramayana di kompleks The Grand Palace (Dok. Pribadi)

Lukisan Ramayana di kompleks The Grand Palace (Dok. Pribadi)

Saya sebagai tenaga pendidik di SMK PGRI 3 Denpasar dan mahasiswa Program Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana beruntung mendapatkan kesempatan untuk mengikuti perjalanan 4 hari 3 malam ke Thailand.

Program perjalanan ke Thailand dirancang untuk memberi pengalaman mengenal seluk-beluk pariwisata bagi tenaga pendidik dan kependidikan di lingkungan SMK PGRI 3 Denpasar, Bali.

Pukul 12.00 waktu setempat rombongan tiba di Bandara Internasional Don Mueang Bangkok, bandara tertua di benua Asia sejak tahun 1918. Kondisi Don Mueang sebagai bandara tua terkendala fasilitas yang tidak representatif seperti kehangatan suhu dalam terminal kedatangan internasional yang mengindikasikan pendingin ruangan tidak bekerja maksimal. Bahkan, Don Mueang belum masuk dalam kriteria perangkingan bandara versi Skytrax.

Eksplorasi Pattaya

Hari pertama dan kedua perjalanan dipusatkan untuk mengeksplorasi kota Pattaya yang menjadi salah satu ikon pariwisata Thailand. Destinasi pertama adalah pantai Pattaya yang sekilas sangat mirip dengan pantai Kuta.

Pantai Pattaya memiliki konsep penataan yang secara umum lebih baik dari Kuta dengan pedagang kaki lima yang tertata apik menjajakan jagung bakar dan es kelapa muda bagi wisatawan. Daya jelajah wisatawan dipermudah melalui pedestrian dengan lebar sekitar 7-8 meter tanpa dijejali oleh parkir motor.

Pedestrian Pantai Pattaya

Pedestrian Pantai Pattaya

Sejauh mata memandang ke arah perbukitan sebelah pantai akan terlihat tulisan Pattaya dengan gaya menyerupai Hollywood.

Menurut penuturan pramuwisata, kegemerlapan Pattaya akan terlihat malam hari dengan jajaran bar dan massage center yang identik dengan wisata seks.

Destinasi kedua di Pattaya adalah Alcazar yang menyajikan suguhan tarian kabaret paling terkenal di Pattaya. Butuh waktu yang tidak lama agar tempat duduk teater dengan kapasitas 1.200 orang penuh.

Tepat pukul 17.00 waktu setempat pertunjukan dimulai dengan 17 tema tarian yang berdurasi sekitar 70 menit. Tarian kabaret disuguhkan secara apik oleh puluhan penari dalam kilauan kostum dan tata panggung yang spektakuler menyesuaikan dengan tema tarian. Jika tidak diberitahu sebelumnya oleh pramuwisata, saya dan rombongan mungkin akan tertipu dengan penampilan penari wanita yang semuanya adalah kaum transgender.

Penari transgender tersebut memiliki lekuk tubuh bak model wanita profesional. Pihak Alcazar melarang keras untuk mendokumentasikan dalam bentuk apa pun selama pertunjukan, namun penonton diberi kesempatan untuk berfoto dengan penari transgender setelah pertunjukan usai dengan biaya tambahan sebesar 40 Baht (Rp 20.000).

Tampak depan Alcazar Pattaya

Tampak depan Alcazar Pattaya

Kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) memang diberikan ruang yang penuh dalam berekspresi dan bekerja secara profesional di Pattaya. Hal yang berbeda terjadi di Indonesia yang sebagian masih memandang sinis dan bersikap diskriminatif pada kaum LGBT.

Pemberdayaan kaum LGBT tidak hanya dalam bisnis hiburan seperti kabaret namun juga dalam berbagai industri pariwisata formal sebagai resepsionis hotel ataupun pramusaji restoran. Melalui pemberdayaan tersebut kaum LGBT merasa bangga atas jadi dirinya dan dapat berkontribusi pada pembangunan pariwisata Pattaya.

Tur di Bangkok

Hari ketiga perjalanan wisata dilanjutkan untuk menjelajah Kota Bangkok yang merupakan ibukota Thailand. Selama perjalanan yang menempuh waktu kurang lebih 2 jam, pramuwisata menerangkan sejarah Kota Bangkok yang erat kaitannya dengan masa kejayaan Sriwijaya di Indonesia.

Kaitan erat dengan Sriwijaya dapat terlihat dari mayoritas penduduknya yang memeluk Agama Buddha. Altar pemujaan selalu terlihat di sepanjang pusat bisnis dan pemukiman kota Bangkok. Secara umum kondisi Bangkok mengingatkan saya pada kota Jakarta dengan segala hiruk pikuk kendaraan biang kemacetan pada jam-jam pulang kerja. Satu hal yang patut diapresiasi dari Bangkok adalah kota yang relatif bersih dari pemandangan sampah meskipun tidak sebersih Singapura. Tidak terlihat adanya sampah yang berserakan baik di pusat bisnis yang elit maupun di pemukiman yang kumuh. Tempat sampah selalu tersedia dengan jarak tertentu dalam kondisi yang terpelihara baik.

Kebersihan Bangkok tidak hanya terlihat di daratan, namun juga dapat dibuktikan di perairan. Ketika rombongan mengunjungi Kuil Wat Arun yang menjadi salah satu landmark Bangkok melalui sungai Chao Phraya juga tidak nampak sampah berserakan.

Perjalanan melintasi sungai Chao Phraya yang membelah Bangkok menjadi dua sisi juga diselingi dengan aktivitas memberi makan ikan-ikan dewa (roti sebagai makanan ikan ditawarkan kepada wisatawan dengan harga 20 Baht).

Populasi ikan-ikan dewa di Cao Phraya cukup banyak karena adanya kepercayaan bahwa siapa pun yang menangkap atau mengkonsumsi ikan-ikan dewa tersebut akan mendapat kesialan. Selain memberi makan ikan-ikan dewa, aktivitas lain yang dapat dilakukan oleh wisatawan adalah mengunjungi pasar terapung.

Namun, disayangkan jumlah pedagang apung yang menggunakan perahu jumlahnya semakin berkurang akibat perilaku wisatawan yang hanya berfoto dengan mereka tanpa memberikan kontribusi berupa membeli barang dagangannya.

Setibanya rombongan di dermaga Wat Arun, terlihat jelas kilauan kuil yang setelah didekati berasal dari pecahan-pecahan cermin yang menempel di seluruh bangunan Wat Arun. Namun karena dalam status pemugaran, kami tidak leluasa untuk menjelajah kuil.

Terbiasa Bahasa Indonesia

Hal menarik selain kuil di Wat Arun adalah seringnya kunjungan wisatawan Indonesia menyebabkan pedagang cinderamata terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia dan Rupiah dalam menawarkan cinderamata dan negosiasi harga.

Tak lengkap berwisata ke Bangkok tanpa mengunjungi kompleks The Grand Palace tempat kita bisa melihat pusat kerajaan Thailand. Beberapa benda bersejarah seperti Buddha Emerald yang berusia ratusan tahun ditempatkan di Kuil Wat Phra Kaew.

Lukisan yang menggambarkan Epos Ramayana secara lengkap juga bisa ditemukan di Grand Palace serta miniatur Angkor Wat (monumen pengingat kejayaan Thailand yang pernah menguasai Siam) namun dalam letak yang terhimpit bangunan lain. Butuh waktu lama jika ingin menjelajah keseluruh kompleks Grand Palace yang luas tersebut.

Tingkat kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara ke Grand Palace cukup tinggi. Hal ini dimungkinkan karena rakyat Thailand sangat mengapresiasi dan menghormati Raja beserta keluarganya. Penghormatan rakyat Thailand juga dapat terlihat dari poster Raja beserta keluarganya di sepanjang pusat bisnis dan pemerintahan Bangkok.

Pose dengan Guru-guru di depan Kompleks Grand Palace

Pose dengan Guru-guru di depan Kompleks Grand Palace

Demikian catatan singkat yang dapat saya sampaikan terkait perjalanan wisata ke Pattaya dan Bangkok dari tanggal 20 Juni hingga 23 Juni 2015. Semoga pengalaman yang didapat selama perjalanan dapat membuka wawasan pariwisata tenaga pendidik dan kependidikan di lingkungan SMK PGRI 3 Denpasar serta menginspirasi akademisi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana dalam pengelolaan destinasi-destinasi wisata.

 Email: p.suhar@gmail.com