Catatan Kecil Pemahaman Lintas Budaya di Jerman selama Program Joint Curriculum

Oleh Dewa Putu Bagus Pujawan Putra, Angkatan 2015

Hari terakhir di Stralsund Jerman bersama sebelum pulang ke Denpasar, Bali.

Hari terakhir di Stralsund Jerman bersama sebelum pulang ke Denpasar, Bali.

Setelah hampir tiga bulan studi di Stralsund, Jerman, akhirnya tiba saatnya untuk kami pulang ke Denpasar, Bali.

Kami, Dewa Putu Bagus Pujawan Putra, Ni Putu Diah Prabawati, Reinaldo Rafael Laluyan, Ni Putu Rika Sukmadewi, dan Gusti Ngurah Agus Adi Putra, adalah mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud yang mengikuti Program Joint Curriculum/Transfer Kredit Asia & Europe/ASEM di University of Applied Sciences Stralsund, 3 jam dari Berlin, Program ini dibiayai oleh Direktorat Belmawa Ristek Dikti.

Berikut adalah beberapa catatan yang saya buat sebagai sebuah kenangan dari pengalaman belajar dan hidup di Jerman.

Catatan ini saya buat Kamis, 29 Desember 2016 dimana keseesokan harinya kami akan melaju pulang ke rumah kami tercinta Indonesia. Adapun yang akan berangkat menuju Tegel Airport (TXL) pada tanggal 30 Desember 2016 adalah penulis (Dewa Pujawan), Rika Sukmadewi dan Reinaldo Rafael. Dua teman kami lainnya sudah terlebih dahulu meninggalkan Stralsund, yakni tanggal 28 Desember 2016 dimana Diah Praba akan melanjutkan petualangannya ke Hong Kong sedangkan Gusti Ngurah menghabiskan tahun barunya di Munich.

Di malam tanggal 27 Desember 2016, kami melakukan perpisahan dengan makan bersama dan melanjutkan dengan permainan “Have you never or ever”. Permainan ini mewajibkan kita berkata jujur dan apabila pernah (ever) sampai 3 kali.

Lima Catatan

Selama hampir tiga bulan kami tinggal di Jerman ada beberapa hal mengenai pemahaman cross cultural (lintas budaya) yang bisa saya catat.

  1. Mereka ramah sesungguhnya dan sangat bersahabat, hanya saja mereka menghormati privasi orang lain sehingga tidak langsung menanyakan hal yang tidak penting, yang membuat mereka terkesan tidak ramah.
  2. Waktu adalah hal yang paling dihargai sehingga walaupun Profesor sekalipun apabila terlambat walau hanya 13 menit, tetap mereka tidak akan mentolerir dan berkahirnya suatu kegiatan selalu tepat (sharp time).
  3. Mereka berjalan cepat dikarenakan suhu di luar sangat dingin (berkisar 7 hingga -5 derajat Celcius) sehingga semakin cepat sampai di tujuan, maka semakin cepat mereka dapat menghangatkan diri.
  4. Harga jual barang antara di Indonesia (Bali) dengan di Jerman sama saja, hanya bir yang murah dikarenakan mereka memang memproduksi dalam negeri. Menariknya semakin sedikit kandungan lemak dalam suatu makanan ataupun minuman harganya semakin murah.
  5. Sistem perpajakan mereka memangkas 40% dari penghasilannya dan ini berlaku bukan hanya untuk warga Jerman, tetapi semua orang yang bekerja di Jerman. Jumlah tersebut untuk pembiayaan dana pensiun, tanggungan pengangguran selama 2 tahun (pemerintah memberikan uang saku tiap bulannya sebesar 70% dari gaji terakhir mereka bekerja), pendidikan (gratis di semua jenjang dan hanya membayar biaya administrasi saja untuk yang berstatus sekolah dan perguruan tinggi negeri), asuransi kesehatan (tidak tersapat kasta pelayanan dan pengobatan baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah), pembiayaan dan perawatan infrastruktur serta gaji untuk pegawai negeri Jerman.

Melihat hal tersebut pantas saja negara mereka maju dikarenakan penyediaan fasilitas untuk pemeliharaan sumber daya manusia yang baik. Menurut penulis hal terpenting adalah tersedianya air bersih dan layak minum di seluruh tempat, karena air adalah hal vital dalam kehidupan dan gratis. Indonesian pun bisa!

Program ASEM-DIKTI

Penulis tidak akan mampu melihat itu semua tanpa kesempatan yang diberikan oleh Universitas Udayana, prodi Magister Kajian Pariwisata melalui program Joint Curriculum 2016 yang diselenggarakan oleh ASEM-DIKTI (Asia Europe Meeting bekerja sama dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi).

Adapun kesan yang terlintas adalah “Pantas maju! Kelak Negeriku pun begini!” dan pesan dari Prof. Rasmussen pada kami adalah ke depan di tahun berikutnya agar semakin banyak mahasiswa yang datang dari Indonesia untuk kuliah di Jerman (FH Stralsund). Lebih baik datang di awal perkuliahan bulan September, saat itu musim panas dan sangat indah menjelajah Stralsund dan Jerman serta optimal mengikuti perkuliahan untuk menambah wawasan di bidang pariwisata.

Kerja sama ini akan berlanjut karena tujuannya adalah double degree (1 tahun di Universitas Udayana dan 1 tahun di Fachhochschule Stralsund).

Bersama ini penulis ingin mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru 2017 kepada semuanya dan terima kasih kepada buddy kami Birgit, Caroline dan Lena atas bantuannya dalam mengurus administrasi dan memperkenalkan budaya Jerman pada kami.

Tak terlupakan seluruh teman di Tourism Development Strategies yakni Max, Laura, Andrina, Nathalia, Julia, Veronica, Caroline, Birgit, Monja, Merle, Vivi, Merit, Maxine, Elizabeth, Lionel, Tobi dan Abdalrohman.

Danke schon fur alles! See you all in Bali guys! …. 😀